Kosakata Bahasa Indonesia Sehari-hari Yang Paling Sering Salah Dalam Pengejaan

 Kosakata Bahasa Indonesia Sehari-hari Yang sering Salah – Kosakata adalah pembendaharaan kata yang kemudian digunakan untuk menyusun kalimat baru. Seseorang mempunyai banyak kosakata yang dikuasai pada umumnya dapat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan yang tinggi. Supaya dalam berkomunikasi lancar maka penambahan kosakata seseorang adalah bagian yang paling penting.

Peraturan kosakata bahasa Indonesia mengacu kepada ejaan yang sudah diresmikan (EYD) yang terkumpul dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Kenyataannya kosakata bahasa Indonesia di bagi menjadi dua (2) bagian, yaitu kosakata baku dan tidak baku. Kosakata baku ialah kosakata bahasa Indonesia yang telah diresmikan sesuai dengan EYD yang berlaku. Tertawa adalah salahsatu contoh kosakata bahasa Indonesia yang baku. Sedangkan kosakata tidak bakunya adalah ketawa.

Kosakata biasa kita pergunakan dalam melakukan komunikasi atau pembuatan kalimat dalam karya tulis. Sebaiknya agar supaya dalam penerapannya tidak mengalami salah dalam pengejaan maka kita harus sesantiasa berpedoman pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Jika kita tidak berpedoman terhadap KBBI terkadang kita sering sekali salah dalam mempraktikkan atau mengucapkan kosakata tersebut. Apalagi jika profesi kita sebagai seorang WordPresser atau Blogger. Karena seperti yang sudah kita ketahui, kegiatan sehari-hari WordPresser atau Blogger adalah menulis sebuah artikel guna untuk diterbitkan di blognya. Ini akan berakibat sangat besar jika memang kosakata yang salah dalam mengeja tersebut kita jadikan untuk menembak kata kunci. Bisa jadi mesin pencari akan bingung memprediksi kata kunci dari artikel yang dicari.

Bukan maksud saya menggurui, namun sudah sepantasnya kita saling mengingatkan dalam kebenaran. Sekarang banyak sekali artikel yang sudah di terbitkan dan ternyata masih ada sebagian kosakata yang ejaanya masih salah. Atas dasar ketidak tahuan sehingga awalnya dikira kosakata tersebut benar.

Dari berbagai kosakata bahasa Indonesia yang sering di gunakan dalam kegiatan menulis sehari-hari atau dalam pembuatan artikel, saat ini masih sering menemukan kosa kata yg sering salah 10 diantara kosakata yang ternyata kebiasaan mengeja saya tersebut masih sering salah besar menurut EYD atau KBBI. Kemudian ditulis kembali kosakata yang sering salah eja hingga menjadi sebuah artikel. Diharapkan artikel ini dapat bermanfaat bagi teman-teman yang belum mengetahuinya.

Berikut adalah 10 Kosakata Bahasa Indonesia Sehari-hari Yang Sering Salah dalam Pengejaanya

Daftar 10 kosakata yang sering salah ketika dieja ini hanya kosakata bahasa Indonesia yang paling sering di gunakan. Dan juga kosakata yang sudah di temukan ejaanya yang benar menurut Kamus Besar Bahasa Indoensia (KBBI) dan juga beberapa referensi saya dapatkan dari WikiPedia.

  1. Silakan atau Silahkan

Kosakata yang paling sering salah ketika dieja adalah kosakata silakan dan silahkan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) penulisan yang benar adalah silakan bukan silahkan. Kosakata silakan bermakna kata perintah yang halus dan juga mempunyai arti kata menyuruh, meminta, dan juga mengajak secara hormat.

Di dalam KBBI tidak terdapat kata silah, namun yang ada hanya kata sila. Adapun kata sila ini terdapat tiga makna dan Anda bisa menemukannya sendiri di KBBI.

  1. Aktivitas atau Aktifitas

Kedua kosakata ini jika kita lafalkan atau di ucapkan maka tidak akan terdengar perbedaannya antara penulisan menggunakan huruf “v” dan huruf “f”. Namun jika kosakata ini kita temukan dalam sebuah tulisan, tentunya akan terlihat sangat jelas dan berbeda antara keduanya. Lalu mana yang benar, apakah “aktivitas” atau “aktifitas”?

Kosakata ini berawal dari penyerapan kosakata asing yang awal mulanya adalah “activity” bukan dari kata “active”. Sedangkan menurut kaidah yang sudah disepakati setiap kosakata hasil serapan bahasa asing yang berakhiran -ity akan diserap menjadi -itas, activity menjadi activitas bukan aktifitas karena mulanya bukan dari kata active. Contoh lainnya university menjadi universitas dan reality menjadi realitas.

  1. Kualitas atau Kwalitas

Terkadang kita bingung jika dihadapkan pada tulisan yang terdapat kata kualitas dan juga kwalitas. Perbedaannya yang satu menggunakan huruf “u” dan yang satunya menggunakan huruf “w”. Contoh lainnya seperti kosakata kuitansi dan kwitansi, kuantitas dan kwantitas, kualitas dan kwalitas.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) penulisan yang benar adalah yang menggunakan huruf “u” bukan huruf “w”. Jadi yang betul adalah kualitas bukan kwalitas. Begitupun untuk kosakata yang lainnya.

  1. Manfaat atau Manfa’at

Biasanya kosakata serapan dari bahasa Arab yang mengandung tulisan huruf “ain” maka ditulisnya sering menggunakan tanda hamzah (‘). Fungsinya untuk memisahkan pelafalan atau pengucapan yang berbeda. Namun pada tulisan bahasa Indonesia saat ini tanda hamzah tersebut sudah tidak digunakan. Jadi untuk penulisan kosakata antara manfaat dan manfa’at adalah yang benar manfaat bukan manfa’at. Begitupun untuk kosakata-kosakata lainnya seperti doa bukan do’a, jumat bukan jum’at, taat bukan ta’at, maaf bukan ma’af, dan sebagainya.

  1. Analisis atau Analysis

Kosakata ini berasal dari serapan bahasa Inggris yaitu analysis. Jika kosakata serapan dari bahasa Inggris setiap akhiran -ysis maka akan berubah menjadi -isis. Dengan begitu analysis penulisan dari bahasa Indonesia yang benar ialah menjadi analisis dan bukan analisa.

Menurut KBBI analisis adalah sebuah penyelidikan terhadap suatu peristiwa seperti karangan, perbuatan, dan sebagainya untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya. Lebih lengkapnya lagi silakan Anda temukan di KBBI baik online ataupun offline.

  1. Sekadar atau Sekedar

Umumnya mungkin kita sering mempunyai anggapan jika kosakata yang benar adalah sekedar. Namun ternyata kata tersebut menurut KBBI adalah salah. Jika kita membuka KBBI maka tidak akan menemukan kata dasar “kedar” tapi yang ada ialah kata dasar “kadar”. Dengan begitu apabila kita menambahkan imbuhan “se” didepannya maka akan menjadi “sekadar”.

Saya sendiri awalnya tidak memahami dan sering menggunakan kata sekedar dalam berkomunikasi atau menulis artikel. Selain itu banyak juga kosakata lainnya yang menurut EYD tidak baku, seperti sistem sering dibaca sistim, apotek bukan apotik, varietas bukan varitas, asas bukan azas, dan sebagainya.

  1. Praktik atau Praktek

Diantara kedua kata ini saya yakin kita lebih sering menggunakan kata praktek daripada praktik. Namun ternyata kata yang benar ialah “praktik” dan bukan “praktek”. Setiap kata serapan yang mempunyai akhiran -ic maka perubahan yang benar ialah menjadi akhiran -ik. Jadi jelas bahwa kata praktik yang paling benar dari pada praktek dan juga malpraktik bukan malpraktek.

Dari kata praktik kita mengenal juga kata praktikan, yaitu orang yang sedang melakukan praktik. Dan juga kita kenal kata praktikum yaitu kegiatan yang hubungannya dengan praktik atau percobaan.

  1. Mengubah atau Merubah

Menurut kaidah dalam bahasa Indonesia antara “mengubah” dan “merubah” yang benar ialah mengubah. Kata dasar mengubah ialah dari kata “ubah” bukan “rubah”. Kita harus menghilangkan konsep tulisan atau komunikasi yang mempunyai paham yang benar adalah kata merubah.

Kata dasar “ubah” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mempunyai makna tukar, pindah, dan ganti. Selanjutnya kata dasar “rubah” menurut KBBI adalah seekor hewan sejenis anjing, bermoncong panjang. Tentunya bukan itu arti sesungguhnya yang ingin disampaikan oleh kita.

Contoh kalimatnya ‘Saya telah merubah bentuk rumah saya dengan melakukan renovasi’. Artinya ‘Saya telah menukar atau mengganti bentuk rumah saya dengan melakukan renovasi’. Coba bayangkan jika menggunakan kata “merubah”!

  1. Nol atau Kosong

Tahukah Anda bahwa angka “nol” (0) tidak bisa disamakan dengan “kosong” begitupun sebaliknya. Hal keliru ini mungkin sudah membudaya dan melekat kuat didalam kegiatan sehari-hari kita seperti dalam percakapan langsung atau bahkan di berbagai media audiovisual seperti televisi dan radio. Penyebutan angka “nol” (0) yang disamakan dengan “kosong” sering sekali dijumpai ketika pengucapan nomor telepon. Contohnya ‘085208…………’ maka akan dibaca “kosong delapan lima dua kosong delapan ……….’.

Mempunyai anggapan bahwa ‘nol’ sama dengan ‘kosong’ adalah sesuatu hal yang keliru. Alasannya yang paling mendasar menurut (KBBI) bahwa ‘kosong’ adalah 1 (satu) tidak berisi, peti — itu rupanya menjadi sarang kecoa, 2 tidak berpenghuni: rumah itu sudah lama, 3 hampa; berongga: batang bambu itu — di dalamnya, 4 tidak mengandung arti: dia menerima tangan saya dengan sikap yang dingin dan pandangan yg –.

Kesimpulannya tidak ditemukan dalam KBBI kalau “kosong” bisa kita rujuk untuk penyebutan angka. Hal ini sama dengan pelafalan atau pengucapan kosakata bahasa Inggris, yaitu setiap angka yang mengandung angka “0” maka akan disebutkan sebagai “zero” atau “ou” bukan “empty”.

  1. Di mana atau Dimana

Jika kita merujuk pada Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) setiap kata depan di, ke, dan dari harus ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya. Namun tidak berlaku bagi gabungan suku kata yang sudah lazim penggunaannya seperti kata daripada dan kepada.

Dengan begitu penulisan yang benar adalah “di mana” bukan “dimana”. Penggunaan kata “di mana” yang paling tepat hanyalah digunakan sebagai kata tanya dalam sebuah kalimat tanya. Dan juga bisa digunakan sebaga kata penghubung yang menyatakan tempat serta dalam bentuk “di mana-mana”. Berikut contoh kalimatnya :

– Di mana kamu bersekolah?

– Sementara ini saya akan berpikir dulu di mana kamu akan sekolah.

– Di mana kamu sekolah, di situlah sayapun akan sekolah.

– Kamu bisa sekolah di mana-mana.

Namun perlu kita ketahui juga bahwa kata ‘di mana’ tidak bisa kita gunakan untuk menghubungkan dua klausa yang tidak sederajat. Penggunaan kata “di mana” bukan untuk sebagai kata penghubung. Karena yang terdapat pada pedoman bahasa Indonesia kata penghubung adalah “yang”. Contoh kalimatnya adalah :

– Di mana sebagai pengganti tempat : ‘Saya ke belajar di sekolah di mana menempuh pendidikan kakak saya’. Seharusnya kalimat yang tepat adalah ‘Saya ke belajar di sekolah tempat menempuh pendidikan kakak saya’.

– Di mana sebagai pengganti dengan : ‘Pelajaran berikutnya adalah Fisika di mana pak Ardin adalah gurunya’. Seharusnya ‘Pelajaran berikutnya adalah FIsika dengan pak Ardin adalah gurunya’.

– Dimana sebagai pengganti yang : ‘Guru Fisika memberikan pelajaran tambahan kepada setiap siswa di mana nilainya kurang dari KKM’. Seharusnya ‘Guru Fisika memberikan pelajaran tambahan kepada setiap siswa yang nilainya kurang dari KKM’.

Agar kita mempunyai kemampuan bahasa Indonesia yang baik maka kita harus memperbanyak lagi pembendaharaan kosakata. Dengan salahnya ketika kita berbahasa maka bisa menimbulkan multitafsir pembaca.

Kesuksesan dalam berbahasa Indionesia yang baik dan benar tidak bisa ditentukan dengan latar belakang lulusan (pendidikan) orang tersebut. Banyak juga orang yang sukses dalam bidang menulis tapi bukan jebolan atau sarjana kebahasaan.

Mungkin sementara hanya itu saja kumpulan beberapa kosakata bahasa Indonesia sehari-hari yang paling sering salah pengejaanya. Mari kita belajar bersama-sama dalam pengucapan atau pelafalan bahasa yang baik dan benar menurut EYD atau KBBI.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *